Amey
Siang yang panas...jam 2.45 aku terbangun dari tidur siangku yg tdk sengaja didepan laptop yg terbuka dgn Essay yang setengah jadi.

"huaaaaaah...aku kehilangan waktu lagi!dasar ame' bodoh!"
umpatku dalam hati mengutuk kelalaianku saat melihat penunjuk waktu di HP merahku.

Dari bawah, terdengar berkali2 suara ibuku memanggil "ami..ami...mama mau pergi..tutup pintu yaa!"

Aku menggaruk kepala "hoooh, itu rupanya, sumber suara yg mmbangunkan tidur siangku yang indah".ucapku pada diri sendiri sambil terkantuk-kantuk.

Lamat-lamat kubalas "iya maaaaaaaaaaaaaaaaaa...!!!"

Lalu aku terduduk di ujung kasur, melamun, membayangkan mimpi yg baru sj kulalui...

"akh...knp harus bermimpi tentangnya lagi sih? padahal dulu...sy tdk pernah memimpikannya sejelas ini?"

lalu kuperas otakku, berusaha mengingat kembali mimpi itu...

saat itu aku sedang serius memandangi sesuatu, tidak terlalu jelas memang, tapi yang jelas, saat itu aku sedang berdesak-desakan dengan banyak orang untuk berusaha memandang objek itu. akh, sayang, badanku begitu pendek dan lemahnya, sehingga aku harus menepi di ujung terali yg membantasi objek itu denganku. objek itu hanya kelihatan ekornya..hmm..mungkin...itu seekor singa?

Beberapa saat aku terpaku menatap "ekor" itu, sambil wajahku ku mencong ke kanan dan kiri. menyumpahi diri yg pendek ini.

Tapi tiba-tiba, entah darimana asalnya, ada seseorang yg menempelkan pundak kanannya ke pundak kiriku. ya, terasa jelas, itu adalah pundak laki-laki. keras, tegas, dengan sudut-sudut tulang sikutnya yg jelas. tak lama kemudian tangan-tangannya ikut memegang terali bersamaku.

"siapa sih nih? g lihat apa, gw cewek? sharusnya dia g menyandarkan pundaknya seperti itu...!" marahku dalam hati.

Aku menengokkan wajahku, mmberanikan diri memandang kebalik pundak kiriku. tujuannya adalah, melihat siapa wajah pria yang kurang ajar itu. untuk melakukannya, aku harus mendongak sedikit. "hmm..pria ini cukup tinggi"...

Dan...itu adalah wajah yang sama, dengan raut bahagia tapi pura-pura tak peduli, jelas terpancar darinya. aku tahu, ia bahagia karena aku sedang berada disampingnya.

Tidak..tidak,,dia tidak sedang melakukan aksi frotteurisme, jangan berpikir begitu kawan, sungguh, tampangnya tidak cabul sama skali. dia hanya sedang bahagia. malah sesungguhnya dia adalah seorang ikhwan. ikhwan yg tidak berani menyentuh seorang wanita pun.

Seketika, rasa hangat itu menjalari tubuhku, asalnya jelas, pundak kiriku, kemudian menjalar menuju ulu hati. memberi sensasi menyenangkan yang memabukkan.

"hai". ucapku.

Dia tidak membalas, hanya tersenyum dan berusaha mengalihkan wajah senang bercampur malu-malunya kearah lain.

Aku tergoda.

Dengan susah payah Aku menginjak terali untuk meninggikan badanku, dan kucondongkan kedepan, agar aku bisa melihat wajahnya yang tampan itu.

Ia hanya menunduk, masih dengan senyum tertahan. (akh, betapa lucunya!^^)

Aku menghela nafas. "hei kawan, kenapa kamu tdk membalas pesan-pesan dan sapaan2ku? bukankah, setelah kita putus kemarin, aku sudah mengatakan, ingin menjadi temanmu, dan kamu pun mengatakan, akan tetap berusaha untukku?"

"....."

"hhhh...kamu tidak baca sms terakhirku y? padahal, aku sangat membutuhkanmu untuk membantuku bekerja, apa kamu,,,tdk mau lagi membantuku y?"

Ia terdiam sejenak,lalu akhirnya ia menatapku.
Akh...masih sama persis seperti dulu, dimana hatiku selalu melonjak girang melihat matanya yg menatapku lurus dengan aura lembutnya. kalau sudah begitu, sudah pasti, dari bibirnya yg agak kering itu, akan terucapkan sesuatu. ya, kata2nya itu mahal bagiku, entah saat kita masih bersama, lebih-lebih saat kita sudah putus seperti ini, sehingga moment-moment seperti ini, dan apapun kata-katanya, akan selalu kukenang dengan sepenuh hati.

dia : "mi,,,katamu, kamu ingin hibernasi hubungan ikhwan-akhwat kan?"ucapnya.

aku : "aaa..iya,,,mmg hibernasi, tp tidak bisakah kamu tetap ramah padaku? tetap baik dan membantuku seperti dulu?" harapku.

dia : "begini mi, saya ingin kamu tetap istiqomah dengan ketetapanmu berhibernasi itu, tetapi kamu sulit sekali melakukannya ya, plin plan seperti biasa..."

aku : "yaaah,,tp sy tdk mengharapkan kita jd sejauh ini, kita sperti menjadi musuh saja, sy ingin kita tetap berteman, tanpa perasaan apa-apa!"

dia : "sulit untuk tidak berperasaan apa-apa"

aku : "...."

dia : "mi, sabar lah. istiqomah, pada waktunya nanti, jika memang sudah digariskan Tuhan, aku akan datang lagi"

kemudian ia berlalu tanpa mendengar kata-kataku lagi.

Meski kata-katanya memberikan kesejukan yg menghibur. tetap saja, menyisakan kerinduan yang amat sangat di hatiku. kutatap dia hingga punggungnya yang berbaju biru kotak-kotak itu hilang dari hadapanku.


"AMIIIII...!!dimanako??? tutup pintu!"

aku tersadar lagi. Dengan sayang, kulepas wajahnya yang mengabur dalam pikiranku. aku merapikan diri, berlari ke garasi dan menutup pagar.

sendiri lagi...


--A story inspired by my chat with Gaby and Laila--
4 u two guys,,,spertinya qta harus melakukan research soal ini ^^
| edit post
Reaksi: 
0 Responses